Jumat, 25 Maret 2016

KADANG CINTA SEKONYOL INI

~ KADANG CINTA SEKONYOL INI ~

Oleh : Irwan Saputra

Pukul saja aku, hingga kamu puas.
Sayat saja terus ini hati sampai pisau itu tak tajam lagi.
Berusahalah terus untuk melupakanku, hingga kamu benar benar lupa.
Bahagiakah kamu saat ini.
Tapi entahlah, kenapa hati ini tidak sama dengan apa yang kamu lakukan.
Mencintai, adalah hal yang tak pernah hilang.
Merindu, adalah kebiasaan yang kulakukan.
dan melupakan, adalah hal mustahil yang ku lakukan.

Entah sampai kapan aku seperti ini.
Mengharapkan sesuatu yang tak berujung, ujung yang bahagia bersamamu.
Apa semua yang aku harap hanya mimpi ?.
Kalau itu nyatanya memang mimpi, maka aku akan mimpi sampai setinggi Bintang.
Agar bintang dan langit tahu betapa aku mencintaimu.
Apakah itu semua sia sia ?.
Tak apa kalau itu sia sia, setidaknya aku pernah mencintai dirimu yang sempurna.
Kadang cinta memang sekonyol ini, tapi yakinlah saat ini dan sampai kapanpun aku akan tetap cinta kamu.

Kamis, 17 Maret 2016

Perlawanan yang Semestinya

17 Maret 2016
.
~Perlawanan yang Semestinya~

oleh : Irwan Sputra

Di tahun 2014 lalu, 1.328 manusia Indonesia sebagai tersangka korupsi.
Kerugian yang mencapai 5,16 Triliun pun terjadi saat itu.

Keserakahan adalah kunci para pelaku orang munafik.
Berkata tidak pada korupsi ? mustahil rasanya ketika tahta itu milik orang serakah.
Harta, kekuasaan, hingga kaki tangan adalah senjata bagi pelakunya.
Semua hal dilakukan agar hidupnya senang, walau dengan cara curang.

Melawan seharusnya dilakukan, ketika keadilan semakin pudar.
Yang kaya menjadi lebih kaya dan miskin menjadi lebih miskin.
Lucu memang hidup di negara ini.
Menyanyi, berteriak, hingga berdemo sudah kami lakukan.
Lantas usaha apa lagi yang kurang dari kami.

Tapi menyerah bukan kata yang pantas di keluarkan untuk melawan ini semua.
Melawan dengan idealisme adalah senjata kami, bukan uang apalagi kekuasaan.
Karena idealisme adalah harta yang paling istimewa yang kami miliki.
Dan akan kami jaga idealisme ini dari uang haram kalian.

Indonesia harus bebas korupsi.
Mimpi itu yang selalu membekas di pikiran kami.
Hukum harus berbicara hukum, bukan mala berbicara berapa uang untuk membeli hukum.
Keadilan harus di tegakkan.
Hukuman mati memang pantas diberikan kepada menusia yang serakah akan uang rakyat.

"Bumi ini cukup untuk menghidupi semua manusia, tapi tidak dengan satu manusia orang serakah".
Ya memang benar apa yang di katakan Mahatma Gandhi.

Entah sampai kapan perlawanan ini, hanya Tuhan yang tahu.
Kerja keras dan kebersamaan memang sepantasnya untuk menuntaskannya.
Hingga kalian akan menyerah.
Pada sebuah takdir yang akan memanggil hayat ini.






Rabu, 16 Maret 2016

Entah Sandiwara Apa Ini ?


Buku Harian 17 Maret 2016
.
Entah Sandiwara Apa Ini ?

oleh : Irwan Saputra

Pukul Enam, segerombolan merpati kini sedang bersuara.
Di balik embun pagi cerah dengan angin yang masih tak ternodai.
Segelas teh hangat dan laptop menemani pagiku kali ini.
Ingin ku bercerita.
Cerita tentang kasih di balik hati ini.
Kasih yang tak mengerti apakah dia juga memiliki rasa yang sama.
Dan kasih yang sudah lama membusuk karena tak ada satu orangpun yang tau.

Sudah lama aku menyimpan kasih ini.
Kasih yang tak pernah berubah dari awalku memilikinya.
Entah sandiwara apa ini ? yang sampai membuatku terlalu lama menyimpan hal ini.
Ku tak pernah tau sandiwara apa yang telah ku perankan.
Tapi yang jelas, hanya satu alasan yang membuat sandiwara ini aku perankan.
"Aku takut menyakiti hati bersihmu" memang alasan ini tak logis.
Tapi memang ini yang aku rasakan.
Rasa yang membuat aku takut jika kamu mengetahuinya.

Kamu memang gadis yang sangat sempurna.
Kamu membuat mulutku diam seperti orang bisu.
Kamu membuat diriku menunduk seperti orang buta yang tak tahu arah.
Dan kamu buat hatiku gelisah hingga seperti ini.

Kini ku berada di ambang kebosanan.
Dengan kasih yang sama, tetapi tak ada perubahan dari hubungan kita.
Mungkin sudah cukup rahasia ini aku simpan.
Dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.
Mengungkapkan kasih yang telah aku rahasiakan.

................................................................................................................................

Jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi.
Di atas tempat tidur yang masih ditemani laptop dan teh hangat kuambil HP.
Dengan tangan bergetar ku beranikan mengirimkan pesan singkat untukmu.
Entah mulai dari mana, yang penting saat ini aku sudah berani untuk mengatakannya.
Kata demi kata kurangkai sebegitu indah agar kamu dapat meyakini hati ini.
"Aku sayang kamu" adalah kalimat terakhir yang menghiasi pesan singkat dariku.

HP pun berbunyi, menandakan ada balasan darimu.
Entah aku mimpi apa kemarin malam.
Kamu mengatakan hal yang sama seperti ku.
Hal dengan kasih yang sama setelah lama ini aku pendam.

Kenapa aku sebegitu bodoh tak mengatakan dari dulu.
Sekali lagi entah sandiwara apa yang membuatku takut untuk mengatakannya.
Ah sudahlah...
Yang penting kusudah lega dengan apa yang telah ku katakan.
Terimakasih kamu telah memiliki hal yang sama seperti ku.
Kan kujaga kasihmu ini hingga ikatan halal yang menyatukan kita.